Sholat! Bukan Ibadah Yang Lain!

Percakapan di Pinggir Gerobak

Jumat pagi selalu punya tekstur yang berbeda.

Udara belum sepenuhnya hangat. Embun masih menempel di helai daun pohon angsana yang berjajar di sepanjang jalan taman. Aku sudah menyelesaikan putaran keduaku — sepatu lari berdebu tipis, napas mulai teratur kembali, keringat yang tadi deras kini tinggal hangat di pelipis. Bekerja dari rumah punya satu keistimewaan yang tak ternilai: pagi hari adalah milikku sepenuhnya. Tidak ada macet yang harus dilawan, tidak ada absensi yang menunggu. Jam tujuh pagi terasa seperti kemewahan yang diizinkan semesta.

Selesai joging, aku mampir ke sudut yang biasa — gerobak bubur ayam Pak Heru, tempat aku hampir selalu singgah setiap Jumat. Tapi pagi itu gerobaknya sepi. Terpal hijau yang biasanya sudah terbuka sejak subuh masih setengah terlipat. Antrean pelanggan yang biasa memenuhi kursi plastik biru — tidak ada.

Aku menunggu sebentar. Lalu seorang ibu yang tengah menyapu depan warungnya menegurku.

“Mas cari Pak Heru? Lagi sholat dhuha, mas. Sebentar lagi balik.”

Aku mengangguk, memilih berdiri di bawah teduhan pohon. Tidak lama, Pak Heru muncul dari arah gang sempit di seberang jalan, sarung masih melingkar di pinggangnya, peci hitam belum dilepas. Wajahnya tenang dengan cara yang sulit aku jelaskan — bukan tenang karena tidak ada masalah, tapi tenang seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban berat di tempat yang tepat.

“Maaf mas, lagi dhuha,” katanya sambil mulai membuka terpal dengan gerakan yang sudah sangat hafal.

“Oh, tidak apa-apa Pak. Sering dhuha?”

Pak Heru tertawa kecil. “Tiap hari, mas. Kalau sholat sunah lain kadang bolong, tapi dhuha saya usahakan. Apalagi ini sholat — bukan ibadah lain. Mumpung masih bisa, mas. Saya usahakan dapat sampai sunah-sunahnya.”

Kalimat itu diucapkan ringan. Tanpa nada ceramah, tanpa ekspresi menggurui. Pak Heru sudah sibuk mengaduk panci besarnya, sementara aku masih berdiri dengan kalimatnya yang menggantung di udara pagi itu.

Mumpung masih bisa. Karena ini sholat. Bukan ibadah lain.

Aku duduk di kursi plastik biru itu, menerima semangkuk bubur yang mengepul, tapi pikiranku sudah tidak sepenuhnya di sana. Ada sesuatu yang tiba-tiba terasa perlu aku renungkan — memangnya kenapa dengan sholat? Apa yang membuatnya berbeda? Apa yang membuat seorang pedagang bubur rela menunda membuka dagangannya demi rakaat-rakaat yang bahkan bukan sholat wajib?


Masjid, Mimbar, dan Pengingat yang Datang Dua Kali

Beberapa jam kemudian, aku sudah berdiri di saf yang rapat di dalam masjid kampung dekat rumah.

Khutbah Jumat dimulai. Khatib yang berdiri di mimbar adalah seorang ustaz paruh baya dengan suara bariton yang terasa seperti diukir dari kayu jati — berat, padat, tidak terburu-buru. Dan ia berbicara tentang sholat.

Aku hampir tersenyum. Semesta seperti sedang mengirimkan pesan yang sama lewat dua orang berbeda: seorang pedagang bubur di pinggir jalan, dan seorang khatib di atas mimbar.

Ustaz itu memulai dengan sebuah hadis yang sudah aku tahu, tapi entah mengapa terasa baru hari ini:

“Pertama kali yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah sholatnya. Apabila sholatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Dan apabila sholatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalnya.” — HR. Thabrani

Ia lalu menjelaskan dengan pelan. Sholat bukan sekadar ritual yang diselesaikan. Sholat adalah tolok ukur. Sholat adalah cermin. Ketika seseorang bisa hadir sepenuhnya dalam sholatnya — khusyuk, tepat waktu, mengikuti tata cara yang diajarkan — maka itu mencerminkan bagaimana ia hadir dalam kehidupannya yang lain.

“Sholat yang benar itu mendidik,” kata khatib. “Ia mendidik kita untuk disiplin — karena waktunya tidak bisa diundur sesuka hati. Ia mendidik kita untuk merendah — karena dalam rukuk dan sujud, kita letakkan dahi kita di atas tanah, setara dengan semua makhluk di hadapan-Nya. Dan ia mendidik kita untuk fokus — karena hati yang terlatih hadir dalam sholat, adalah hati yang terlatih hadir dalam segala sesuatu.”

Aku mendengarkan. Benar-benar mendengarkan, dengan cara yang mungkin sudah lama tidak aku lakukan di tempat ini.

Khatib kemudian mengutip surah Al-Ankabut ayat 45 — ayat yang sudah familiar, tapi kali ini memukul dengan cara yang berbeda:

“…dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar…” — QS. Al-Ankabut: 45

Mencegah. Bukan sekadar memperindah. Mencegah — seperti tembok, seperti imunitas, seperti pagar yang didirikan lima kali sehari agar jiwa tidak mudah ambruk ketika godaan datang.


Tiang yang Menopang Semuanya

Sholat bukan sekadar salah satu ibadah dalam Islam. Ia adalah al-‘amud — tiang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sholat adalah tiang agama. Barangsiapa mendirikannya, maka ia telah menegakkan agama. Dan barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah merobohkan agama.” — HR. Baihaqi

Tiang bukan ornamen. Tiang bukan hiasan tambahan. Tiang adalah struktur. Ketika tiang runtuh, atap ikut runtuh. Ketika sholat ditinggalkan, maka bangunan keislaman seseorang — akhlak, kejujuran, kasih sayang, kesabaran — semuanya menjadi rentan kehilangan pondasinya.

Dalam Al-Qur’an, sholat disebut lebih dari sembilan puluh kali. Tidak ada ibadah lain yang disebut sebanyak itu. Dan yang paling menggetarkan: kewajiban sholat tidak diturunkan melalui perantara wahyu biasa. Ia diperintahkan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ dalam peristiwa Isra’ Mi’raj — pertemuan langsung di langit ketujuh yang tidak ada tandingannya dalam sejarah kenabian. Satu-satunya ibadah yang dijemput langsung dari sisi-Nya.

Dan kewajiban itu awalnya adalah lima puluh kali sehari.

Nabi Musa as. yang menyarankan Rasulullah ﷺ untuk memohon keringanan, berkali-kali, hingga akhirnya Allah tetapkan lima waktu — namun dengan pahala yang tetap setara dengan lima puluh. Artinya, bahkan setelah dimudahkan sedemikian rupa, nilai sholat tidak berkurang sedikit pun di sisi-Nya.

Dari sisi fisik, gerakan sholat adalah latihan tubuh yang sempurna — rukuk meregangkan punggung dan sendi, sujud melancarkan aliran darah ke otak, duduk iftirasy melatih kelenturan. Dari sisi mental, sholat adalah meditasi terstruktur — mengosongkan kepala dari kebisingan dunia, lalu mengisinya kembali dengan kesadaran akan Yang Maha Besar. Dari sisi sosial, sholat berjamaah membangun rasa kesetaraan — raja dan rakyat berdiri dalam saf yang sama, tidak ada kursi kehormatan di hadapan Allah.

Itulah mengapa Pak Heru bilang: bukan ibadah lain. Karena sholat memang bukan sekadar ibadah biasa. Ia adalah ibadah yang lengkap — menyentuh tubuh, pikiran, dan jiwa secara bersamaan.


Lima Menit yang Selalu Tidak Ada Waktu

Tapi kita sering tidak sempat.

Rapat jam dua siang, dan adzan Ashar terdengar dari notifikasi hp — lalu pesan masuk bersamaan, dan entah bagaimana rakaat itu tertunda menjadi setengah jam, menjadi satu jam, menjadi lupa.

Sedang menonton pertandingan bola. Adzan Maghrib berkumandang. Sebentar, tinggal sepuluh menit lagi. Sepuluh menit menjadi dua puluh, menjadi waktu Isya yang hampir habis.

Atau yang paling halus dan paling umum: sholat dikerjakan, tapi terburu-buru. Dua menit, mungkin kurang. Gerakan cepat seperti orang yang sedang terlambat naik kereta. Bacaan tertelan. Sujud tidak sempat menetap. Selesai — centang, lanjut kerja.

Manusia modern punya keajaiban tersendiri: mampu menghabiskan tiga jam untuk scroll media sosial, dua jam untuk menonton serial, satu jam untuk macet sambil mendengarkan podcast — tapi ketika adzan berkumandang, tiba-tiba waktu menjadi barang langka yang tidak tersisa.

Padahal sholat lima waktu, jika dikerjakan dengan tenang dan tidak terburu-buru, memakan waktu total tidak lebih dari empat puluh menit dalam sehari. Empat puluh menit dari dua puluh empat jam. Kurang dari tiga persen.

Yang lebih mencengangkan: sholat sudah dimudahkan sedemikian rupa. Ada sholat jama’ untuk perjalanan, ada qashar untuk kondisi tertentu. Ada sholat duduk, sholat berbaring, bahkan sholat dengan isyarat bagi yang tidak mampu bergerak. Islam tidak menuntut kesempurnaan fisik untuk menghadap kepada-Nya. Tapi tetap saja — manusia lalai. Bukan karena tidak tahu. Bukan karena tidak mampu. Tapi karena prioritas yang tertukar, dan karena kelalaian yang terus-menerus dibiarkan hingga menjadi kebiasaan yang terasa normal.


Kembalikan Sholat ke Tempat Pertamanya

Sholat adalah fondasi. Dan fondasi bukan sesuatu yang dibangun di akhir — ia diletakkan pertama kali, sebelum dinding, sebelum atap, sebelum perabot.

Bayangkan sebuah bangunan yang fondasinya retak. Tidak peduli betapa megah fasadnya, betapa mahal catnya, betapa elegan furniturnya — bangunan itu tidak aman. Ia bisa ambruk kapan saja. Begitu pula dengan kehidupan seorang Muslim yang sholatnya hancur: ibadah lain, kebaikan lain, akhlak lain — semuanya menjadi tidak kokoh, tidak berakar, mudah goyah ketika dunia menekan.

Tapi perlu diingat satu hal yang tak kalah penting: sholat bukan formalitas. Sholat yang dikerjakan asal-asalan — yang tubuhnya hadir tapi hatinya entah di mana, yang gerakannya selesai tapi jiwanya tidak tersentuh — sholat seperti itu belum tentu mendatangkan manfaat yang seharusnya. Allah tidak membutuhkan gerakan kita. Allah menginginkan kehadiran kita. Sholat yang berkualitas adalah sholat yang diniatkan sungguh-sungguh, dikerjakan sesuai tuntunan, dan diupayakan agar hati ikut hadir meski pikiran kadang mencoba kabur.

Dan ingat ini: sholat tidak meminta banyak.

Ia tidak meminta kita berlari seperti joging pagi. Ia tidak meminta kita duduk berjam-jam seperti rapat kantor. Ia tidak meminta kita mengerahkan tenaga seperti olahraga. Ia hanya meminta kita berhenti sejenak — lima kali sehari — dan menghadap kepada Sang Pemilik segalanya.

Mulailah dari yang wajib. Lima waktu. Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya. Perbaiki kualitasnya pelan-pelan. Bukan karena ingin dipandang saleh, bukan karena takut dicap tidak beragama, tapi karena sholat itu untuk dirimu sendiri. Manfaatnya kembali kepadamu. Ketenangannya kembali kepadamu. Perlindungannya dari perbuatan keji dan mungkar — kembali kepadamu.

Pak Heru, pedagang bubur yang menunda membuka dagangannya demi beberapa rakaat dhuha, sudah tahu sesuatu yang mungkin banyak dari kita lupa. Bahwa ada hal-hal di dunia ini yang nilainya melampaui hitung-hitungan waktu dan untung-rugi. Bahwa ada ibadah yang layak diperlakukan istimewa — bukan karena tradisi, bukan karena paksaan, tapi karena ia memang luar biasa dengan cara yang tidak semua orang mau berhenti sejenak untuk merasakannya.

Mumpung masih bisa.

Kata-kata itu sederhana. Tapi di dalamnya tersimpan sesuatu yang dalam: kesadaran bahwa kemampuan untuk sholat adalah nikmat — bukan hal yang otomatis ada selamanya. Tubuh yang sehat, waktu yang tersisa, kesempatan yang masih terbuka — semuanya adalah titipan yang bisa diambil kapan saja tanpa pemberitahuan.

Jadi kalau bukan sekarang, kapan?


“Jagalah sholat, karena sholat adalah sebaik-baik yang kalian kerjakan.” — HR. Ahmad


Sila Di Hari Jumat — Cerpen #1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top